Me Vs Chocolate | OneShoot |

Me vs chocolate

Title : Me Vs Chocolate

Author : Жin Genie

Cast : Xi Luhan

Jessica Jung

Suport Cast : Lay Zhang

Kim Taeyeon

Genre : Romance

Rating : PG-15

Lenght : OneShoot

A/N : FF ini diambil dari sudut pandangnya Luhan.

 “Apa kau mencintaiku?”

“Tidak, aku tidak mencintaimu”

“Tapi aku sangat mencintaimu”

“Kau lebih mencintai aku atau chocolate?”

***Me Vs Chocolate by Жin Genie***

 

Namaku Xi Luhan. Aku adalah seorang namja tampan keturunan China-Korea yang tinggal di Korea. Orang terdekat ku biasanya memanggilku dengan sebutan ‘Lu’ atau ‘Luhan-ah’ tapi special untuk my princess dia memanggilku dengan sebutan ‘Luney’ yang artinya Luhan honey. Manis bukan panggilan yang ia buat untuk ku? Berbicara soal manis, aku sangat membenci makanan manis, terutama yang bernama CHOCOLATE. Catat! C-H-O-C-O-L-A-T-E! Aneh? Ok, mungkin aku terdengar aneh karena tidak suka chocolate yang sangat banyak di sukai oleh orang di seluruh dunia itu. Sebenarnya aku juga menyukai chocolate, hanya saja jika mengingat tentang chocolate aku sangat membencinya. Kenapa aku membencinya? Jawabannya adalah karena my princessyeoja chinguku sangat mencintai chocolate sampai menomer duakan aku—namja chingunya sendiri. Dulu saat kami baru berpacaran ia tidak terlalu menyukai chocolate—seperti sekrang ini. Ia sangat menggemari chocolate dua bulan belakangan saja. baru dua bulan saja ia mengenal chocolate ia sudah menomer duakan aku, menyebalkan! Anehnya walaupun ia sangat mencintai chocolate badanya tetap kurus, tidak seperti kebanyakan yeoja penyuka chocolate lainya yang berbadan besar. Tapi tetap saja aku sangat membenci chocolate.

“Sicababy”panggilku kepada yeoja chinguku yang sedang asik memakan biskuit chocolatenya tepat disampingku.

Diam. Tidak ada respon. Yeoja chinguku—Jessica Jung masih asik dengan biskuit chocolatenya.

Aku menghela napas pelan. “Sica”panggilku lagi.

“Hm”akhirnya ia menyahut panggilanku, tapi tidak sedikit pun ia mengalihkan pandangannya dari biskuit chocolatenya itu.

“Ayo kita masuk ke rumah hantu”ajakku kepada yeoja chinguku itu.

“Tidak mau!”tolaknya tegas. Ah aku lupa kalau ia sangat takut dengan yang berbau mistis.

“Bagaimana kalau kita naik bianglala itu”ucapku seraya menunjuk bianglala yang sedang berputar.

Ia menoleh ke arah bianglala lalu menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. Aku harap-harap cemas menunggu jawabannya.

“Tidak mau!”tolaknya lagi.

“Kenapa?”tanyaku penasaran. Aku tahu ia tidak takut ketinggian, jadi apalagi sekarang alasannya?

“Malas, aku mau disini menghabiskan biskuit chocolate ku”jawabnya santai lalu memasukkan biskuit chocolate ke dalam mulutnya.

Aku mendesah kasar mendengar jawabnya. Saat ini kami sedang berada di taman hiburan. Berkencan di akhir pekan—itu rencana awalku. Tapi sepertinya niatku itu harus aku simpan dalam-dalam karena yeoja chinguku itu terus saja tidak mempedulikanku. Dan faktor ia tidak mempedulikanku adalah chocolate! Ugh i hate chocolate.

***

“Sicababy, hari minggu temani aku ke mall membeli kado untuk ulang tahu Victoria jie ya”ucapku kepada yeoja chinguku.

Saat ini kami tengah menunggu bus di halte dekat sekolah kami.

Ia berhenti mengunyah chocolate batanganya lalu menatapku sejenak.

“Aku tidak bisa Luney, hari minggu aku dan Taeyeon akan pergi ke festival chocolate yang ada di Busan”tolaknya halus.

Aku mendesah pelan. Lagi-lagi aku kalah dari benda manis itu—chocolate.

Sorry Luney, festival itu hanya ada kali ini saja di Korea dan aku tidak ingin melewatkannya”ucapnya merasa tidak enak padaku.

Aku tersenyum—paksa. “Aku mengerti”ucapku padanya.

Aku memang mengerti dirimu Sica, tapi kenapa kau yang tidak bisa mengerti diriku? Sepertinya kau lebih menyayangi chocolate daripada aku.

***

Hi Lu”sapa Lay teman sebangku ku seraya menepuk pundak ku pelan.

Aku menoleh kepadanya malas.

“Kau kenapa Lu? Ku perhatikan dari tadi kau hanya melamun saja?”tanya Lay sepertinya dia khawatir padaku.

Aku hanya membuang napasku kasar. Tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan dari Lay.

“Apa ini tentang Jessica dan chocolate lagi?”selidik Lay.

Ah Lay, kau memang sahabat terbaikku. Kau begitu mengerti diriku bahkan saat aku tidak berkata apa pun kau mengerti tentang keadaanku. Tapi kenapa Sica tidak sepertimu? Kenapa dia tidak peka terhadap perasaanku?

Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.

“Ceritakan lah”ujar Lay.

Aku menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan melalui mulut.

“Sica semakin menomer duakanku”aku mulai bercerita kepada Lay. Siapa tahu dengan begitu bebanku sedikit berkurang dan mungkin saja Lay bisa memberiku solusi dari masalah yang saat ini aku hadapi.

“Dua minggu yang lalu aku mengajaknya ke lotte world untuk menikmati akhir pekan dan sekalian kami berkencan. Tapi dia malah menghiraukanku dan asik menikmati chocolatenya”lanjutku.

“Semingu yang lalu aku memintanya untuk menemaniku membeli kado untuk Victoria jie, tapi ia menolaknya hanya karena ingin pergi ke festival chocolate yang ada di Busan. Aku selalu mengerti dirinya Lay, tapi kenapa dia tidak pernah mengerti diriku? Aku selalu menomer satukan dirinya daripada urusanku yang lain, tapi kenapa dia selalu menomer duakanku bahkan tiga, empat dan seterusnya bila itu sudah menyangkut chocolate”tambahku lagi dengan nada frustasi.

Aku menghela napas kasar“Aku harus bagaiman Lay?”tanyaku kepada sahabatku itu.

Lay mentapku iba, mungkin dia kasihan melihatku.

“Bagaimana kalau kau menyuruhnya untuk memilih antara kau atau chocolate”usul Lay.

“Maksudmu?”tanyaku sedikit tidak mengerti.

“Jadi begini, kau menyuruhnya untuk memilih antara dirimu atau chocolate. Jika memang ia mencintaimu ia pasti akan lebih memilihmu di bandingkan dengan chocolate. Tapi jika ia memilih chocolate,  itu tandanya ia memang tidak mencintaimu dan kau harus belajar merelakannya dan mencari yeoja lain”jelas Lay panjang lebar.

Aku menelan salivaku mendengar penjelasan Lay yang menurutku sedikit menyeramkan itu. Bagaimana kalau Jessica lebih memeilih chocolate dibanding aku? Apa itu artinya aku harus berpisah dengan Jessica? Aku tidak bisa jika harus putus dengannya.

“Bagaimana jika Jessica lebih memilih chocolate dibanding aku Lay?”tanyaku terdengar putus asa.

“Di luar sana masih banyak yeoja yang mencintaimu Lu, mati satu tumbuh seribu”jawab Lay santai.

“Kau coba saja dulu”ucap Lay.

Aku berpikir sejenak. Jika ini berhasil mungkin Jessica akan lebih mengerti diriku dan perhatian padaku.

“Baiklah”ucapku akhirnya setuju dengan ide yang Lay usulkan.

***

Saat ini aku tengah berdiri di depan kelas Jessica. Aku sengaja menunggunya untuk membicarakan hal yang tadi aku dan Lay rundingkan.

“Sica”panggilku saat melihat Jessica sudah keluar dari kelasnya.

Ia kaget melihatku. Kenapa harus kaget? Setiap hari kan aku selalu menunggu di depan kelasnya untuk mengajaknya pulang bersama. Ia menatapku sedih lalu berlari dari hadapanku.

“Aneh”gumamku seraya menggaruk kepalaku yang gatal.

“Kenapa dia lari?”ucapku bingung.

“Tunggu Sica!”ucapku, tapi Jessica langsung masuk ke dalam sebuah taksi.

“Apa dia marah padaku? Tapi apa salahku?”gumamku bingung.

***

Sudah dua hari Jessica terus saja menghindari. Sebenarnya ada apa dengannya dan kenapa ia selalu menghindariku? Aku menghampiri kelasnya saat istirahat ia malah pergi dengan Taeyeon ke kafetaria sekolah dan mengacuhkanku. Pulang sekolah aku menunggunya lagi di depan pintu kelasnya, tapi ternyata ia sudah pulang bersama Taeyeon dan meninggalkanku. Aku kirim pesan tidak ia balas. Aku menelponnya tidak ia angkat. Aku ke rumahnya, pelayan rumahnya bilang ia sedang tidur dan tidak bisa di ganggu. Biasanya kalau aku datang walaupun ia sedang lelah ia pasti menyambutku walaupun nantinya ia akan mengacuhkanku dan sibuk dengan chocolatenya.

“Kenapa lagi Lu?”tanya Lay bingung melihatku kembali murung.

“Sudah dua hari Jessica mengacuhkanku”jawabku lemas.

“Kau sudah mengatakannya?”selidik Lay.

Aku menggeleng pelan. “Belum, bagaimana aku mengatakannya kalau ia terus saja menghindariku”jelasku lemas.

“Ah begitu”

“Nanti saat pulang sekolah kau langsung ke kelas Jessica saja, biar tasmu aku yang bawa”ucap Lay.

Aku tersenyum kecil ke arah Lay “Xie xie Lay”ucapku tulus.

“Hm”sahut Lay singkat.

***

“Grep”

Aku langsung menarik tangan Jessica saat melihatnya keluar kelas.

“Luhan!”serunya kaget, tapi tetap dengan volume suara yang pelan.

“Ada yang ingin aku bicarakan”ucapku langsung.

Raut wajah Jessica langsung terlihat tegang. Hey ada ada dengannnya?. Pikirku khawatir.

“Katakan lah”ujarnya pelan.

“Tidak disini, bagaimana kalau di taman sekolah”tawarku.

Jessica hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia terlihat lemas hari ini. Apa dia sedang ada masalah? Atau ia sedang sakit? Apa sebaiknya aku mengatakannya nanti saja?

“Katakan lah Lu”ucapnya ketika kami sudah sampai di taman sekolah.

“Mungkin ini sedikit berat..”ucapku memulai. Kulihat ia cemas menunggu kalimat selanjutnya dariku.

“Apa kau mencintaiku?”tanyaku padanya.

Ia terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaanku itu, tapi beberapa detik kemudian ia menarik bibirnya menjadi sebuah lengkungan manis. Sangat manis, lebih manis dari chocolate yang pernah aku makan—dulu. Melihat senyuman manisnya itu membuatku ikut tersenyum.

“Tidak, aku tidak mencintaimu”ucapnya dengan raut wajah yang sangat serius.

Senyumku langsung menghilang begitu saja, aku tercengang mendengar jawabannya itu. Sungguh aku tidak menyangka jawaban seperti itu yang keluar dari bibirnya.

“Tapi aku sangat mencintaimu”ucapnya lagi. Seketika senyuman langsung menghiasi wajah tampanku lagi. Ah, rupanya tadi ia mengerjaiku. Awas kau Sicababy akan ku balas!

Kini wajahku ku rubah menjadi serius, ini lah saatnya aku mengatakannya.

“Kau lebih mencintai aku atau chocolate?”tanyaku akhirnya.

Ia terdiam sejenak. Mungkin ia sedang menimbang pertanyaanku.

“Ten—tentu saja aku le—lebih memilih…mu”ucapnya terbata dan terdengar sedikit berat untuk mengatakannya.

“Benarkah?”tanyaku memastikan bahwa telingaku masih berfungsi dengan baik. Aku menang dari chocolate itu? Sedikit sulit di percaya, tapi aku senang.

Ne”sahutnya cepat.

“Kalau begitu, mulai sekarang berhenti lah memakan chocolate lagi”ucapku tegas.

Jessica kembali terdiam, kali ini cukup lama. Ok, ini adalah keputusan yang berat untuknya.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya Jessica menganggukkan kepalanya pelan. Aku tersenyum senang lalu memeluknya dengan erat.

“Berjanji lah kau tidak akan meninggalkan aku Luney”ucap Jessica pelan.

“Itu sudah pasti”balasku mantap.

***

Semenjak kejadian di taman aku tidak pernah melihat Jessica bersentuhan dengan benda manis berwarna cokelat itu. Ah senangnya ia tidak lagi menomer duakan aku.

“Sica hari minggu temani aku membeli buku ya”ucapku. Saat ini kami tengah di dalam bus menuju rumah kami.

Ne”jawabnya langsung. Biasanya aku harus mengulang pertanyaan itu sampai beberapa kali baru lah ia sadar akan keberadaanku, tapi kali ini berbeda. Itu semua karena sudah tidak ada chocolate menyebalkan itu lagi.

Sekarang Jessica sudah sedikit berubah, ia tidak lagi sibuk sendiri dan mengacuhkanku. Sekarang ia lebih banyak menghabiskan waktunya denganku. Lebih perhatian padaku, lebih peka terhadap perasaanku dan selalu ada untukku—ini yang paling penting.

***

“Kau kenapa? Ku perhatikan seminggu ini kau terlihat sangat lemas?”tanyaku menyelidik kepada Jessica yang saat ini tengah duduk disampingku dengan kepalanya ia sandarkan kebahu kananku.

“Aku baik-baik saja”jawabnya pelan.

“Lihat aku!”seruku seraya menarik wajahnya untuk menatap mataku. Ia menghindar secara halus.

“Katakanlah”ucapku lembut.

Ia tersenyum kecil ke arahku. “Aku baik-baik saja Luney”ujarnya. Entah kenapa aku masih tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Sebagian hati kecilku bilang kalau ia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

“Jangan bohong! Aku tahu kau sedang berbohong padaku!”seruku padanya. Jika ia berbohong ia tidak akan berani menatap mataku. Terbukti tadi ia menghindari bertatapan mata denganku.

Ia mendesah pelan. “Aku benar-benar baik-baik saja Luney, sungguh! Hanya saja akhir-akhir ini tugas kelasku sedang menumpuk dan itu cukup menyita waktu tidurku”jelasnya.

Aku menatapnya penuh selidik, cukup masuk akal alasanya.

“Kenapa tidak meminta bantuanku hm?”tanyaku. Biasanya jika ada tugas yang sulit yang tidak bisa ia kerjakan ia akan selalu meminta bantuanku.

Ia tersenyum ke arahku. “Aku ingin belajar mengerjakannya sendiri, aku tidak ingin terus merepotkanmu Lu”jawabnya. Ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu kananku.

Aku mengelus kepalanya lembut. “Aku tidak merasa kerepotan membantumu, aku justru senang kau meminta bantuanku. Itu tandanya kau membutuhkanku”ucapku senang.

***

Hari ini aku kembali melihat Jessica yang terlihat sangat lemas dan tidak bertenaga wajahnya juga sedikit pucat. Aku jadi semakin khawatir padanya.

Aku menghampirinya yang sedang duduk diam di kursinya, biasanya saat istirahat ia akan langsung pergi ke kafetaria sekolah, tapi akhir-akhir ini ia menjadi lebih sering diam di kelas.

“Ini”ujarku seraya memberinya roti keju dan satu gelas jus strawberry kepadanya. Aku sengaja membelikannya makanan, karena aku tahu pasti ia tidak pergi ke kafetaria dan melewatkan waktu istirahatnya lagi.

Ia menatap roti dan jus yang kubawakan itu sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Makanlah, kau nampak pucat akhir-akhir ini”seruku lalu duduk di sampingnya.

Ia tersenyum ke arahku, senyum yang terkesan dipaksakan.

Gomawo Luney”ucapnya pelan.

“Mau aku suapi?”tawarku.

Ia tersenyum kecil lalu menggeleng pelan. Aku menautkan kedua alisku.

Wae?”tanyaku.

“Ini di kelas Luney”jawabnya.

Ah jadi rupanya ia malu dan tidak enak kepada teman sekelasnya.

“Aku ingin melihatmu makan”ucapku.

Ia mengangguk patuh lalu mulai membuka bungkus roti keju yang aku belikan dan memakannya dengan perlahan. Ia sepertinya kurang menikmati roti keju yang kubelikan.

“Apa kau seperti ini karena aku melarangmu memakan chocolate?”tanyaku memastikan.

Ia menatapku dengan matanya yang membulat sempurna lalu beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya kuat. “Tidak..bukan..aku seperti ini karena banyak tugas Luney, kan aku sudah bilang”ucapnya mencoba menjelaskan. Ia tidak berani menatap kedua mataku. Ah Sica apa kau berbohong?

“Sungguh Luney”tambahnya seraya menatap kedalam mataku. Aku melihat raut kesedihan dan ketakutan dari tatapan matanya. Apa semua itu karena aku?

“Luney~”

“Baiklah aku percaya, tapi jika ada masalah sebaiknya kau mengatakannya padaku”ujarku. Dia mengangukkan kepalanya dengan semangat.

Aku mengacak rambutnya gemas. “Aku harus ke kelas, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi dan itu artinya aku harus bersiap untuk pelajaran olahraga”pamitku kepada Jessica.

Ia mengangguk pelan seraya tersenyum manis ke arahku.

***

“Luhan~”

“Luhan~”

Aku mendengar Taeyeon meneriaki namaku berkali-kali seraya berlari dengan terpogoh ke arahku. Aku menoleh ke arahnya.

“Ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu?”tanyaku.

“Hosh hosh”

Terlihat ia mengatur napasnya yang tidak beraturan, sepertinya ia berlari dari kelasnya ke lapangan.

“Ada apa?”tanyaku lagi.

“Je—Jessica”ucapnya terbata.

Aku langsung menatapnya kaget, ada apa dengan yeojaku?

“Ada apa dengannya Taeng?”tanyaku penasaran. Sepertinya sesuatu yang buruk terjadi kepada yeojaku.

“Dia—dia pingsan di kelas”ucap Taeyeon akhirnya.

Setelah mendengar ucapan Taeyeon aku langsung berlari menuju kelas Jessica.

“Jessica sekarang berada di rumah sakit Seoul Lu”teriak Taeyeon memberitahu.

Aku langsung membelokkan arah tujuanku menjadi ke parkiran, tempat aku menaruh motorku. Lalu bergegas menuju rumah sakit Seoul untuk melihat keadaan yeojaku.

***

Aku melihat Jessica yang sekarang tengah berbaring lemah di bangsal rumah sakit. Aku menghampirinya perlahan. Kulihat ada kedua orangtua Jessica yang juga tengah menunggu Jessica sadar.

“Luhan”ujar Mrs. Jung pelan.

Aku tersenyum ke arah Mrs. Jung. “Annyeong haseyo”sapaku sopan.

Annyeong haseyo”balas kedua orangtua Jessica bersamaan.

“Duduklah Luhan”ucap Mr. Jung mempersilahkan aku duduk di kursi yang terdapat dihadapannya. Aku mengangguk patuh.

Hening..

Tidak ada percakapan diantara aku dan kedua orangtua Jessica. Kami semua sibuk dengan pikiran di kepala kami masing-masing.

Tidak berapa lama Taeyeon datang dan kedua orangtua Jessica pamit untuk membeli makanan. Beberapa jam aku dan Taeyeon menunggu Jessica untuk sadar akhirnya ia sadar juga.

Saat Jessica sadar, dokter langsung memerintakan kami untuk keluar karena ia akan memeriksa Jessica. Setelah diyakini kalau kondisi Jessica baik-baik saja barulah aku dan yang lainnya diperbolehkan masuk kembali oleh sang dokter. Kedua orangtua Jessica mempersilahkan aku untuk menjenguk Jessica pertama kali karena mereka harus menemui dokter terlebih dahulu. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

“Sica-ya”ucapku seraya menggenggam tangannya lembut saat aku sudah berada disampingnya.

Jessica membuka matanya perlahan. “Luney”ujarnya lemah. Ia berusaha bangkit dari tidurnya, tapi dengan sigap aku melarangnya.

“Berbaringlah, kau masih lemah”ujarku padanya.

Ia mengangguk patuh.

Aku menyerahkan sebuah bingkisan padanya. Ia menerima bingkisan itu lalu menatapku tidak percaya setelah melihat bingkisan yang aku berikan kepadanya.

“Luney”ucapnya pelan seraya menatapku bingung. Dengan perlahan ia menyodorkan kembali bingkisan itu padaku.

Aku tersenyum kecil ke arahnya lalu mengacak rambutnya gemas. “Ambilah, bukankah kau sangat merindukannya”ucapku.

“Lagipula hari ini adalah Valentine days

Ia menggeleng lemah. “Tidak, aku sudah berjanji padamu untuk tidak memakan chocolate lagi”balasnya.

Bingkisan yang aku berikan kepada Jessica berupa berbagai jenis chocolate—makanan kesukaanya. Mendengar perkataan Jessica barusan membuatku semakin merasa bersalah padanya karena sudah melarangnya untuk memakan chocolate . Aku tidak tahu kalau dampak dari perkataanku yang melarangnya waktu itu sampai menyebabkan ia masuk rumah sakit seperti ini. Sungguh, aku tidak suka melihat yeoja ku terbaring lemah dirumah sakit terlebih akibat ulahku sendiri.

“Aku menarik kembali kata-kataku waktu itu, aku tidak akan melarangmu memakan chocolate lagi”ujarku.

“Luney”ucapnya pelan seraya menatapku dengan mata berbinarnya. Ah aku sangat merindukan tatapannya yang seperti itu. Tatapan penuh kebahagia yang selalu ia tunjukkan saat memakan chocolate .

Mianhae karena sudah melarangmu memakan chocolate. Ternyata selama ini yang tidak peka terhadap pasangannya itu bukan kau, melainkan aku”ucapku menyesal.

“Aku tidak sadar kalau selama beberapa bulan lalu aku telah mengacuhkanmu dengan berbagai kegiatanku”lanjutku.

Ia menggenggam tanganku erat lalu tersenyum manis ke arahku. Senyuman manis yang aku lihat saat ia sedang bahagia.

“Itu semua bukan salahmu”selanya.

Aku menggeleng kuat. “Tidak, ini semua salahku, aku yang kurang perhatian padamu”sergahku cepat.

“Baiklah itu adalah salahmu dan aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, jadi tidak usah membahas masalah itu lagi, ok ?”ujarnya.

Aku tersenyum lalu mengangguk.

Saranghae Jessica Jung my chocolate girl “ucapku seraya mencium kening Jessica cukup lama.

Na ddo saranghae Xi Luhan”balasnya.

“Mau aku suapi chocolate ?”tawarku.

Ia menggelengkan kepalanya. Aku menatapnya bingung. Sekarang apa lagi?

“Kenapa?”tanyaku menyelidik.

“Aku masih dalam keadaan sakit Luney, tidak boleh memakan makanan sembarangan. Aku hanya boleh memakan makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Walaupun boleh memakan makanan luar itu hanya makanan sehat yang tidak mengandung bahan kimia, contohnya buah”jelasnya panjang lebar.

Aku mengangguk paham seraya tersenyum tiga jari. “Aku lupa”cengirku.

Ia menggelengkan kepalanya pelan.

“Percayalah padaku Lu, aku hanya mencintaimu”ucap Jessica tiba-tiba.

Aku tersenyum ke arahnya. “Ne , aku percaya”timpalku.

Ternyata aku melawan chocolate hasilnya adalah seri. Jessica memang mencintaiku, tapi dia juga membutuhkan chocolate untuk menghilangkan stressnya. Mulai sekaranga aku tidak lagi membenci chocolate apalagi melarang Jessica memakannya. Untukku sekarang kebahagian Jessica adalah segalanya karena aku sangat mencintainya.

Jongmal saranghaeyo Jessica Jung nae yeoja.

The End

 

 

Epilogue

“Luhan”panggil Taeyeon—sahabat Jessica.

“Hm”sahutku tanpa menoleh ke arah Taeyeon. Saat ini aku sedang fokus menjaga Jessica yang terbaring lemah.

“Ada yang ingin aku katakan padamu”ucap Taeyeon.

“Katakanlah Taeng”seruku memberi ijin.

“Kurasa keputusanmu melarang Jessica memakan chocolate adalah keputusan yang salah”ucapnya.

Aku menoleh ke arah Taeyeon yang kini berada di samping kiriku.

“Maksudmu?”tanyaku tidak mengerti.

Taeyeon menarik napasnya dalam sebelum menjawab pertanyaanku.

“Niat awal Jessica memakan chocolate sebenarnya hanya untuk menghilangkan stress karena dirimu yang terlalu sibuk dengan kegiatan clubmu sampai-sampai kau mengacuhkannya berlarut-larut. Tapi lambat laun memakan chocolate menjadi kebiasaan untuk Jessica. Aku akui Jessica memang menjadi tidak peka dengan keadaan sekitar jika sudah berurusan dengan chocolate , tapi aku lebih senang melihatnya yang seperti itu dibandingkan melihatnya yang sering melamun karena diacuhkan olehmu”jelas Taeyeon panjang lebar.

Aku benar-benar kaget mendengar ucapan Taeyeon barusan. Jadi selama ini yang tidak peka terhadap pasangannya itu aku? Dan yang lebih parahnya aku sampai membuat Jessica seperti ini.

“Sekitar satu bulan yang lalu Jessica mendengar obrolanmu dengan Lay yang membiacarakan tentang kau yang akan memutuskan Jessica karena menomer duakanmu dengan chocolate . Saat itu Jessica benar-benar kaget dan terpukul. Ia tidak menyangka kau akan memutuskannya. Selama beberapa hari Jessica menghindarimu karena ia tidak ingin kau memutuskannya, tapi di sisi lain ia juga tidak bisa berhenti memakan chocolate begitu saja. Akhirnya Jessica putuskan untuk mulai berhenti memakan chocolate karena ia tidak ingin kehilanganmu. Ia benar-benar mencintaimu Lu”ucap Taeyeon membuatku membulatkan mataku dengan sempurna. Jadi waktu itu Jessica mendengar obrolanku dengan Lay? Pantas saja ia jadi menghindariku. Aku jadi semakin merasa bersalah dengan Jessica. Jesica stress karena aku mengacuhkannya dan sekarang Jessica sakit juga karena aku melarangnya memakan chocolate. Sungguh aku bukanlah namja chingu yang baik untuk Jessica.

Mianhae Sica. ucapku dalam hati seraya menggenggam tangan Jessica semakin erat.

Taeyeon menatapku dengan tatapan memohon. “Kumohon Lu, jangan larang Jessica memakan chocolate lagi, aku tidak mau melihatnya terbaring lemah di rumah sakit lagi”pinta Taeyeon padaku.

“Pasti Taeng, aku juga tidak ingin melihatnya seperti ini lagi. Aku sangat mencintainya”ucapku.

Taeyeon tersenyum senang. “Gomawo Lu”ucapnya.

Aku hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan terima kasih dari Taeyeon. Tidak seharusnya ia berterima kasih padaku yang jahat dan tidak peka ini. Justru aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena sudah mengerti Jessica dan menjaga Jessica saat aku tidak bersamanya.

Gomawoyo Taeng.

08:09 WIB

Rabu, 06 Februari 2013

***Me Vs Chocolate by Жin Genie***

A/N : Ini adalah FF iseng, jadi kalau alurnya gaje aku minta maaf. FF ini terinspirasi dari aku yang akhir-akhir ini suka banget makan makanan yang berbau chocolate.

Iklan

16 pemikiran pada “Me Vs Chocolate | OneShoot |

  1. bahaya juga ya kalo udah ketagihan cokelat, sampe2 kalo dilarang bisa sakit…
    Untung luhan pengertian, meskipun awalnya kurang peka…

  2. Ahhhh sweet bgttttt!!!!!!!
    Bikin ff hansica lagi donggg,,,tapi yang ada konflik percintaannya juga,,,yaaa kaya cinta segitiga antar luhan,jessica,dan baekhyun#bias semua#
    Oh iya ini nanti pasti ada jessica version kan? Soalnya biar tau sisi pandang jessica,,,
    Jangan lupa lanjutin ff yang luhan sombongg bgt,,yang judulnya populer-populer gtu#lupa#
    Udh dlu dh bingung mau ngomong apa lagi,,oh iya minta nama facebook donggg hehehehehe,,

  3. Yah masa Luhan cemburu sama coklat sih, ga keren mamen keke
    Kalo coklatnya itu diganti jongin gimana ya? pasti terjadi pertumpahan darah antara Luhan dan Jongin (?)
    Luhan tolong lebih perhatian sama Jessica ya -_-

  4. Luhan cemburu sama Coklat? ngga elit banget Han -_-v
    bahaya juga yah, kalau udah kecanduan coklat. dilarang aja ampe sakit begitu. yaaah~ padahal saya Chocolate addict –v
    Ditunggu FF Lusica lainnya~

  5. Aigoo.. Nie epep…
    #nangis
    Salut bgt ma sicca eonnie,,
    Luhan oppa knape baru nyadar sich,,pdhl kn yg slah dia..
    #kebawaArusff

  6. Luhan terlalu cinta sama Sica ya.. sampe mencemburui chocolate??
    mending sama aku aja luhan 😀 /PLAK! *digaplok author*
    kasian Sica sampe sakit gara2 ga makan chocolate… nanti kapan2 aku paketin coklat ya Sica. 1 dus gede buat persediaan bulanan… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s