There’s Only One Person Love You (Sequel of That Girl) | OneShoot |

that only person love you_2_副本

 

Title : There’s Only One Person Love You

 

Author : Жin Genie

Cast : Jessica Jung

Kris Wu

Suport Cast : Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Park Chanyeol

Kai Kim

 

Genre : Sad

Rating : PG-15

Lenght : OneShoot

Backsound : Henry – Trap

SNSD Jessica – That One Person, You

“Yeoja itu sebenarnya adalah orang yang jahat, ia berusaha membunuhmu ketika kau sedang tidak sadarkan diri”

“Kau salah paham dengannya”

“Pergi kau, untuk apa kau kemari? Kau telah menyia-nyiakan orang yang begitu mencintaimu dengan setulus hati dan aku tidak akan membiarkan kau menyia-nyiakannya lagi”

“Seharusnya kau sadar, aku tidak pernah mencintaimu”

“Tapi aku mencintaimu”

“Lupakan, karena tidak aka nada cinta untuk orang sepertimu. Kau hanya belum sadar, siapa yang sebenarnya kau cintai”

***That Only Person Love You by Жin Genie***

 

 

Seorang namja tampan berperawakan jangkung itu menyeret kopernya dengan langkah pasti. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan Seoul—kota kelahirannya dan seluruh kenangannya. Ia meninggalkan Seoul untuk mengerjar impiannya—seperti itu lah kalimat yang ia ucapkan jika ada seseorang yang bertanya alasan apa yang menyebabkannya pergi dari Korea, namun alasan sebenarnya bukan lah itu. Alasannya meninggalkan Korea untuk menghindari seseorang. Seseorang yang sangat ia cintai namun mencintai namja lain, anggap lah ia sebagai namja yang pengecut yang melarikan diri dari masalah yang sedang ia hadapi.

 

“Sayang, apa kau yakin dengan keputusanmu ini?”tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat begitu tidak rela namja jangkung itu pergi. Wanita paruh baya itu adalah eommanya.

 

Namja jangkung itu tersenyum, ia menyamakan tingginya dengan sang eomma lalu menghapus air mata eommanya yang mengalir dengan lembut. “Bukankah aku harus mengejar impianku?”ucap namja jangkung itu.

 

Wanita paruh baya itu mengangguk lemah dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya yang mulai menua dan keriput, namun tidak menghilangkan kecantikan alami wanita paruh baya itu.

 

“Aku pergi dulu, eomma”ucap namja jangkung itu seraya mengecup puncak kepala eommanya dengan sayang, penuh rasa cinta yang tulus.

 

“Sayang, kau harus mengejar kebahagianmu”seru eomma dari namja jangkung itu lemah.

 

“Deg”

 

Jantung namja jangkung itu berdetak kencang mendengar perkataan eommanya. Mendadak ia menjadi ragu dengan kepergiannya ini. Namun namja jangkung itu menepis perasaan ragu itu. Ia tersenyum tipis kepada eommanya lalu menghampiri appanya yang berdiri tepat disamping kiri eommanya.

 

“Jaga eomma, appa”ucap namja jangkung itu lalu memeluk appanya erat.

 

“Pasti”ujar appa dari namja jangkung itu seraya membalas pelukkan anaknya.

 

Namja jangkung itu menyeret kopernya dengan dengan sedikit ragu, berharap seseorang akan datang dan memintanya untuk tidak pergi, namun harapan itu hanya harapan semu karena orang yang paling ia harapkan tidak mungkin datang. Ia pasti sedang bahagia dengan seseorang—kekasihnya.

 

Bye”seru namja jangkung itu seraya melambaikan tangannya.

 

Namja jangkung itu kembali berbalik namun baru beberapa langkah ponselnya bergetar ada panggilan masuk dari temannya.

 

“Ada apa?”tanya namja jangkung itu langsung.

 

“….”

 

“Ada apa dengannya? Katakan padaku? Cepat!”seru namja jangkung itu tidak sabaran.

 

“….”

 

“Benarkah? Kau tidak bohong kan?”tanya namja jangkung itu penasaran. Raut wajahnya berubah serius.

 

“….”

 

“Baiklah aku akan kesana, sekarang”seru namja jangkung itu cepat lalu mematikan sambungan telpon.

 

Namja jangkung itu segera berbalik dan memeluk eommanya. “Eomma, aku harus memngejar kebahagianku kan?”tanya namja jangkung itu tiba-tiba dengan mata yang lurus menatap kedua mata hangat milik eommanya.

 

Eomma dari namja jangkung tersenyum lalu mengangguk mantap. “Iya, kau harus mengejar kebahagianmu”seru eommanya senang.

 

Gomawo eomma, saranghanda”seru namja jangkung itu lalu berlari kencang dari bandara.

 

 

>>>

 

 

Jessica menatap ke dalam kamar inap Yuri yang terdapat Kris di dalamnya. Kris terlihat begitu khawatir karena Yuri yang masih belum sadarkan diri walaupun dokter mengatakan ia baik-baik saja. Jessica melihat Kris menggenggam tangan Yuri erat lalu menciumnya dengan penuh perasaan. Kris menatap Yuri penuh rasa cinta—rasa yang selama ini dipendam karena terhalang oleh dirinya—mungkin.

 

“Test test”

 

Tak terasa air mata Jessica mengalir begitu saja melihat pemandangan yang menyakitkan hatinya. Dimana namja yang masih sangat ia cintai sedang menunggu yeoja yang ia cintai sadar—terlebih yeoja itu adalah sahabatnya sendiri.

 

“Bolehkan aku berharap itu aku?”gumam Jessica pelan seraya menghapus air matanya dengan kasar. Jessica membalikkan tubuhya, ia tidak sanggup berlama-lama melihat Kris yang begitu menunjukkan rasa cintanya kepada Yuri.

 

Jessica membekap mulutnya sendiri—mencoba meredam isakannya agar tidak terdengar oleh Kris. Perlahan tubuhnnya merosot lalu terduduk dilantai rumah sakit yang dingin hingga menembus sampai tulangnya. Kedua bahunya terlihat naik-turun karena ia menahan isak tangisnya. Ini sudah kesekian kalinya ia menangis karena melihat Kris yang begitu perhatian kepada Yuri.

 

“Sudah kuduga kau akan kembali kesini”ucap seorang yeoja seraya berkacak pinggang—berlagak marah. Yeoja itu adalah Tiffany.

 

Jessica menoleh ke arah Tiffany dengan wajah yang berlinang air mata. Mneunjukkan wajahnya yang penuh kesedihan, keputusasaan dan rapuh.

 

Tiffany menghampiri Jessica dan memeluk sahabatnya erat. “Sudah kukatakan jangan kemari dulu”omel Tiffany pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Jessica.

 

“Aku akan mengabarimu jika Yuri sudah sadar”lanjut Tiffany dengan suara bergetar menahan tangis.

 

Sementara Jessica sendiri semakin terisak dipelukan Tiffany. Jessica sadar ini menyakitkan untuk dirinya dan juga hatinya namun entah mengapa ia terus melakukannya. Alih-alih mengunjungi Yuri sebenarnya ia ingin melihat Kris. Rasa cintanya kepada Kris tidak berkurang sedikitpun walaupun ia tahu Kris sudah menyakitinya dengan begitu dalam.

 

“Jess, kumohon kau jangan menyiksa dirimu seperti ini lagi”ujar Tiffany dengan suara parau. Ikut merasakan apa yang Jessica rasakan.

 

Mendengar perkataan Tiffany membuat Jessica melepaskan pelukannya dari Tiffany dan langsung berdiri tegak. Tiffany menatap Jessica bingung.

 

“Kau kenapa, Jessi?”tanya Tiffany khawatir. Ia menatap nanar Jessica yang kini berdiri di hadapannya.

 

Jessica melirik ke arah Tiffany lalu menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. “Aku sudah merelakan Kris bahagia, seharusnya aku juga bahagia kan, Tiff? Tapi kenapa rasanya jauh lebih sakit? Kenapa Tiff?”tanya Jessica dengan suara parau. Jessica menatap Tiffany dengan tatapan kosong.

 

“Jess..”gumam Tiffany pelan.

 

Jessica menyeka air matanya cepat lalu membalikan badanya dan berjalan lurus. Tiffany bangkit dan langsung menarik tangan Jessica membuat Jessica kembali membalikann badannya menghadap Tiffany. “Jess..”ucap Tiffany pelan.

 

“Aku baik-baik saja Tiff, sungguh. Aku mau pulang”ujar Jessica pelan masih menatap Tiffany dengan pandangan kosong.

 

“Aku antar”ujar Tiffany lalu berjalan terlebih dahulu dan menarik Jessica. Jessica menghempaskan tangannya dari genggaman Tiffany.

 

“Aku bisa sendiri”ujar Jessica dingin.

 

Tiffany terkejut dengan sikap Jessica yang berubah menjadi dingin. “Tapi Jess—“seru Tiffany khawatir.

 

“Aku bilang, aku bisa sendiri. Jangan buat aku menjadi manusia yang selalu merepoptkan orang lain dan tidak berguna, Tiff”potong Jessica cepat.

 

“Aku bisa sendiri”lanjut Jessica lalu berjalan melewati Tiffany. Tiffany terdiam di tempatnya. Ia mengerti, Jessica memang sedang butuh waktu untuk sendiri.

 

 

 

***

 

 

 

Pagi harinya Jessica kembali mendatangi rumah sakit untuk menjenguk Yuri yang sudah dua hari belum sadar. Jessica membawa bunga lili putih untuk Yuri karena Yuri sangat menyukai bunga lili. Sennyum yang merekah terus terukir di wajah cantiknya, ia sudah bertekat hari ini akan menguatkan hatinya dan tidak lagi terpuruk karena Kris.

 

“Pagi nona”sapa seorang suster saat melewati Jessica.

 

“Pagi”balas Jessica dengan senyum manis.

 

Jessica membuka pintu kamar rawat Yuri dengan perlahan lalu menyembulkan kepalanya. Raut wajah Jessica berubah murung melihat Yuri yang masih terbaring lemah di bangsal rumah sakit. Ini semua salahnya. Jessica terus saja memaki dirinya sendiri atas keadaan Yuri sekarang. Tapi Jessica sudah bertekat untuk menebar senyumnya hari ini dan ketika Yuri sadar yang ia lihat adalah senyumann di wajah cantiknya bukan wajah jeleknya yang kusam.

 

Jessica menghampiri Yuri lalu duduk di kursi yang berada di samping Yuri. Ia menggenggam tangan Yuri erat. “Pagi Yul”sapa Jessica lembut dengan senyum manisnya.

 

Hening..

 

Jessica tidak tahu harus berkata apa kepada Yuri. “Mianhae..”ucap Jessica pelan. “Ini semua salahku. Seadainya saja aku tidak mendorongmu, pasti kau tidak akan tertabrak oleh Kai dan terbaring lemah disini. Aku memang sahabat yang tidak baik untukmu. Aku selalu saja menyusahkanmu”tambah Jessica dengan air mata yang mengalir begitu saja membasahi pipinya. Jessica terisak pelan, tapi dengan kasar ia menghapus air matanya. Bukankah ia sudah bertekat hari ini untuk ceria tanpa adanya air mata.

 

Mianhae”ucap Jessica sekali lagi lalu terkekeh pelan.

 

Jessica menatap Yuri lirih. “YA! Yuri pabo! Kau harus bangun agar aku bisa menghajarmu. Kau tahu, karena dirimu aku dan Kris putus! Kau harus bangun Kwon Yuri!”omel Jessica seraya memukul Yuri yang terbaring lemah.

 

“Aku membencimu Kwon Yuri!!”teriak Jessica kesal dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya. Ia ingin sekali apa yang ia katakan itu benar, tapi ia tidak bisa. Ia terlalu menyayangi Yuri melebihi sahabat, ia sudah menganggap Yuri sebagai saudari perempuannya sendiri.

 

“Aku sempat berpikir kalau aku salah sudah mempermainkanmu dan aku sempat berpikir kau adalah yeoja yang baik. Ternyata aku salah, kau adalah yeoja paling jahat yang pernah aku temui”ujar sebuah suara dari arah pintu. Jessica tahu betul suara itu. Itu adalah suara Kris—namja yang ia cintai dan mantan kekasihnya. Dengan cepat Jessica menghapus air matanya yang kembali mengalir lalu membalikkan tubuhnya menhadap Kris.

 

“Kris..”ucap Jessica pelan.

 

“Iya, ini aku. Kenapa? Kau terkejut aku berada disini dan memergokimu ingin berbuat jahat kepada Yuri?”tanya Kris sinis dengan tatapan tajamnya yang begitu menakutkan. Tatapan tajam yang lebih menakutkan dari saat Kris ingin menamparnya.

 

“Kau..kau salah paham Kris”ujar Jessica berusaha menjelaskan kepada Kris.

 

Kris tersenyum sinis kepada Jessica. “Salah paham kau bilang? Aku melihat dengan jelas apa yang kau lakukan kepada Yuri dengan kedua mataku sendiri, jadi aku tidak mungkin salah paham”balas Kris sinis.

 

“Pergilah sebelum aku membuatmu terbaring sama seperti Yuri”ucap Kris dengan nada suara yang terdengar jelas menahan marah. Terlihat jelas karena kini mata Kris sudah mulai merah karena emosi.

 

“Tapi Kris—“

 

“Kubilang pergi!!”bentak Kris lalu melemparkan bunga lili yang Jessica bawa tepat ke wajahnya dengan begitu kencang.

 

Jessica hanya bisa mematung di tempatnya setelah mendapat perlakuan kasar dari Kris. Kris begitu kasar padanya karena salah paham dengan apa yang terakhir ia katakan kepada Yuri. Tidak ia hiraukan rasa sakit di wajahnya karena hatinya jauh lebih sakit atas perlakuan kasar Kris barusan.

 

“KUBILANG PERGI JESSICA JUNG!”bentak Kris lebih kencang. Dengan langkah gontai Jessica berjalan keluar dari ruang rawat Yuri diiringi air matanya yang mengalir deras di pipinya. Tatapan matanya kosong. Sekarang Jessica sudah seperti mayat hidup. Wajahnya pun sudah semakin pucat karena kelelahan dan karena tekanan yang Kris berikan. Tiba-tiba saja pandangan Jessica menjadi buram dan seketika ia pingsan.

 

“Jessica Jung!”

 

 

 

***

 

 

 

“Aku ragu apa kau benar-benar teman, Yuri”sindir Kris ketika Tiffany datang. Tiffany memang baru bisa menjenguk Yuri karena ia sibuk menjaga Jessica yang juga sedang sakit dan juga jadwal kuliahnya yang tidak bisa ia tinggalkan.

 

“Terserah, aku tidak peduli dengan perkataanmu”balas Tiffany datar. Semenjak ia tahu Kris menghianati Jessica ia menjadi sinis kepada Kris, sebelumnnya ia adalah orang yang paling setuju dengan hubungan Jessica dan Kris.

 

“Kasihan sekali Yuri memiliki teman seperti kalian. Kau dan temanmu—Jessica itu tidak ada bedanya. Kalian sama-sama jahat dan berpura-pura baik kepada Yuri untuk menutupi kejahatan kalian”Kris kembali menyindir Tiffany yang saat ini tengah duduk di samping bangsal Yuri. Sementara Kris duduk di sofa yang ada di kamar rawat Yuri.

 

Tiffany membalikkan badannya menatap Kris tajam. “Aku harus bagaimana menurutmu eoh? Ketika kedua sahabatku sakit di waktu yang bersamaan. Yang satu sudah ada yang menungguinya, sementara yang satu lagi tidak ada seorang pun yang menjaganya. Aku harus bagaimana? Apa aku harus diam saja disini menunggu Yuri sementara aku mengabaikan Jessica yang juga sedang sakit dan tidak ada yang menunggunya? Aku harus bagaimana menurutmu, Kris Wu? Apa aku harus membiarkan Jessica merana sendiri di kamar rawatnya, eoh? Jessica jauh lebih membutuhkan ku saat ini, terlebih setelah kau menghianatinya”teriak Tiffany kesal karena terus saja disudutkan oleh Kris. Ia awalnya ingin diam saja ketika Kris terus menyindirinya, namun ketika Kris juga membawa Jessica ia sudah tidak bisa menahan lalgi amarahnya yang memang siap meledak itu.

 

Kris terdiam mendengar perkataan Tiffany. ‘Jadi Jessica sakit?’pikir Kris jadi sedikit merasa bersalah.

 

“Sudah lah, lebih baik kau saja yang menjaga Yuri”seru Tiffany kesal lalu mengambil tasnya dan berjalan pergi. Namun saat hendak membuka pintu ia berbalik. “Jangan berpikir untuk menjenguk Jessica, aku tidak akan membiarkanya”lanjut Tiffany lalu keluar dari kamar rawat Yuri dengan emosi yang masih memuncak.

 

 

 

***

 

 

 

“Tiff, kenapa kau terus disini? Kau juga harus menjenguk Yuri”tanya Jessica yang melihat Tiffany terus di kamar rawatnya dari siang.

 

Tiffany memalingkan wajahnya dari Jessica. Ia tidak kuat jika harus bertatapan dengan Jessica, ia pasti akan menangis. “Saat kau tidur baru aku akan menjenguknya”jawab Tiffany lalu tersenyum ke arah Jessica ketika ia sudah memantapkan dirinya sendiri. Ia tidak ingin Jessica tahu kalau ia bertengkar dengan Kris tadi siang.

 

“Baiklah, kalau begitu kau pergi lah karena aku ingin istirahat”seru Jessica lalu menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.

 

Tiffany menatap Jessica dengan wajah sebal. “Kau mengusirku, eoh?”tanya Tiffany merajuk.

 

Jessica terkekeh pelan. “Iya, aku mengusirmu, jadi pergi lah”ujar Jessica lalu kembali terkekeh.

 

“Jahat sekali kau, Jessica Jung”cibir Tiffany pura-pura kesal.

 

“Deg!”

 

Mendengar kata jahat entah mengapa Jessica kembali mengingat kejadian kemarin saat Kris membentaknya dan menuduhnya berbuat jahat kepada Yuri. Ia sungguh terpukul dengan kejadian kemarin. Masih terekam dengan jelas di otaknya saat Kris menuduhnya dengan mata yang penuh emosi dan melempar bunga lili padanya.

 

“Jess, kau tidak apa-apa kan?”tanya Tiffany khawatir karena Jessica diam saja, seperti sedang memikirkan sebuah masalah besar.

 

Jessica diam, ia masih berkutat dengan pikirannya. Tiffany yang melihatnya mulai khawatir, pasti ada yang tidak beres. Ia yakin itu. “Jess..”panggil Tiffany seraya mengguncang bahu Jessica pelan.

 

“Eh?”seru Jessica bingung setelah tersadar dari lamunan singkatnya.

 

“Kau kenapa?”selidik Tiffany. Ia begitu khawatir dengan keadaan Jessica yang sedang dalam keadaan terburuknya itu.

 

Jessica menatap Tiffany bingung. “Aku?”seru Jessica seraya menunjuk dirinya sendiri. “Ada apa denganku?”tanya Jessica bingung.

 

“Kau melamun”jawab Tiffany singkat seraya menatap wajah Jessica yang masih pucat.

 

“Ah..tidak”elak Jessica seraya memasang senyum di wajahnya yang terlihat jelas dipaksakan itu. Membuat Tiffany semakin yakin kalau ada yang tidak beres dengan Jessica.

 

“Ada apa?”selidik Tiffany dengan nada suara yang lembut. Ia tidak ingin memaksa Jessica, tapi ia juga ingin tahu apa yang Jessica rasakan agar bisa membantu Jessica.

 

“Tidak ada apa-apa, Tiff. Sungguh”ujar Jessica berusaha meyakinkan Tiffany yang mulai curiga.

 

Tiffany menghela napas pelan. “Baiklah, tapi jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu kau harus memberitahukannya padaku. Apapun itu, ok!”serunya cepat dengan nada perintah.

 

“Eum”sahut Jessica patuh.

 

Tiffany melangkah menuju pintu. “Tiff”panggil Jessica pelan.

 

Tiffany berbalik. “Apa?”sahutnya.

 

“Kau tidak marah kan dengan, Yuri?”tanya Jessica. Tiffany cukup terkejut mendengar pertanyaan Jessica namun ia berusaha tersenyum.

 

“Tentu tidak, dia juga sahabatku sepertimu”jawab Tiffany.

 

Jessica tersenyum mendengar jawaban Tiffany. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”tanya Tiffany beruntun. “ Pasti sesuatu sudah terjadi, ayolah ceritakan padaku, Jessi?”pinta Tiffany.

 

Jessica menggeleng lemah. “Tidak ada, sunguh. Aku hanya ingin bertanya saja”elak Jessica untuk kesekian kalinya.

 

Tiffany kembali menghela napas pasrah. “Baiklah, aku pergi dulu”pamit Tiffany.

 

Ne

 

“Ingat, kau harus banyak istrirahat agar cepat sembuh”nasihat Tiffany sebelum benar-benar meninggalkan kamar rawat Jessica. Jessica hanya tersenyum sebagai jawaban.

 

“Kau tidak boleh marah padanya apa pun yang terjadi”gumam Jessica lirih setelah Tiffany benar-benar pergi dari kamar rawatnya.

 

 

>>>

 

 

Seorang namja jangkung mengendap-endap masuk ke dalam ruang rawat Jessica. Ia tersenyum lirih melihat Jessica yang terbaring lemah dengan wajahnya yang masih pucat. Ia menghampiri Jessica dan duduk di kursi yang memang di sediakan di samping tempat tidur. Memandang wajah pucat yang masih terlihat cantik di matanya.

 

“Kenapa kau jadi menderita seperti ini?”gumam namja jangkung itu lirih. “Aku merelakanmu bersamanya bukan untuk akhir yang seperti ini”lanjutnya seraya mengusap rambut Jessica pelan. Penuh kasih sayang.

 

“Kumahon, Jess…berbahagia lah”pintanya lalu mencium tangan Jessica lembut. Ia memejamkan matanya menikmati tangan lembut Jessica yang bersentuhan dengan kulit pipinya.

 

“Tuk tuk”

 

Terengar langkah sepatu yang semakin lama semakin mendekat ke arah kamar rawat Jessica membuat namja jangkung itu melepaskan tangan Jessica dari pipinya lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari tempat yang bisa ia jadikan persembunyian sementaranya.

 

“Kriet”

 

Pintu kamar rawat Jessica dibuka secara perlahan menampakan namja jangkung berwajah tampan namun terlihat dingin. Dia adalah Kris—mantan kekasih Jessica. Kris menatap Jessica tanpa ekspresi yang jelas antara kesal dan kasihan.

 

Kris menatap Jessica yang terbaring lemah di bangsalnya, keadaan yang tidak jauh berbeda dengan Yuri—hanya saja tidak separah Yuri. “Cepat lah sembuh..”ujar Kris pelan dan terdengar tulus. “Aku tidak mau terus melihatmu di rumah sakit ini”lanjutnya dengan nada marah. Setelah mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan ia berbalik pergi meninggalkan kamar rawat Jessica.

 

Tanpa di ketahui Kris, Jessica terbangun setelah Kris membuka pintu kamarnya karena ia merasa sentuhan lembut di rambutnya sebelumnya yang ia kira adalah Kris. Hatinya begitu senang ketika mendengar perkataan Kris pertama yang memintanya untuk lekas sembuh namun hatinya hancur berkeping-keping ketika Kris mengatakan ia tidak ingin melihatnya lagi di rumah sakit ini. Rasa sesak kembali memenuhi hatinya—rasa sesak yang lagi-lagi di timbulkan oleh Kris—namja yang dicintainya. Namja yang ia cintai begitu dalam dan juga menyakitinya begitu dalam pula.

 

Jessica meramas bagian dadanya kuat. Berharap rasa sesaknya akan berkurang walau sedikit. “Tuhan..aku tidak sanggup lagi. Ini begitu menyakitkan untuk ku”gumam Jessica dengan suara parau. Air matanya sudah mengalir membanjiri kedua pipinya, ia lagi-lagi menangis begitu memilukan karena Kris Wu. Karena ulah seorang Kris Wu yang tidak pernah sadar akan cintanya yang begitu besar dan tulus padanya. Mungkin hati Kris sudah membantu untuk dirinya hingga yang terlihat oleh matanya hanya dirinya yang jahat dan tidak pernah berbuat baik.

 

 

 

>>>

 

 

 

Kini Yuri sudah sadar. Ia sedang disuapi buah oleh eommanya yang kebetulan hari ini ada waktu untuk menjenguk anaknya. Kris sedang duduk di sofa yang ada di kamar rawaat Yuri. Menyaksikan ibu dan anak yang kini sedang melepas rindu.

 

“Kemana Jessica? Kenapa eomma tidak melihatnya? Tiffany juga tidak terlihat”tanya eomma Yuri bingung karena tidak mendapati Jessica menemani anaknya. Biasanya Jessica akan menemani Yuri setiap saat, bahkan ia sampai harus di usir dulu baru mau pulang kerumah untuk istirahat.

 

Yuri mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak tahu. Aku juga tidak melihatnya ketika aku sadar”jawab Yuri sedikit kesal tidak mendapati kedua sahabatnya itu disisinya.

 

Kris sedikit menggeram kesal mendengar Yuri dan eommanya membiacarakan Jessica—yeoja jahat yang tidak pantas di sebut sahabat oleh Yuri.

 

“Apa dia sakit?”gumam eomma Yuri perhatian kepada Jessica. Mendengar eomma Yuri yang begitu perhatian kepada Jessica membuat Kris tidak tahan lagi.

 

“Maaf menyela pembicaraan kalian. Tapi anda tidak perlu khawatir dengan yeoja jahat seperti Jessica. Ia tidak pantas untuk kalian khawatirkan”ujar Kris dengan nada yang terdengar sinis.

 

Yuri dan eommanya menatap Kris dengan dahi berkerut. “Apa maksudmu, Kris?”tanya Yuri dengan nada tidak suka. Ia tidak terima ada yang menjelekan sahabatnya.

 

Kris bangkit dari sofa lalu menghampiri Yuri dan eommanya. “Yeoja itu sebenarnya adalah orang yang jahat, ia berusaha membunuhmu ketika kau sedang tidak sadarkan diri”jelas Kris dengan berapi.

 

Yuri dan eommanya menatap Kris tidak percaya.

 

“Kau salah paham padanya”ucap Yuri yakin karena Jessica yang ia kenal baik bukan orang yang seperti itu.

 

“Hahaha”tawa eomma Yuri seketika meledak. Membuat Kris menatapnya bingung. “Sepertinya kau salah sangka dengan Jessica, Kris-ssi”ujar eomma Jessica santai. Tidak menanggapi sama sekali perkataan Kris.

 

“Aku serius ahjumma”ujar Kris mantap.

 

Kini eomma Yuri menatap Kris serius. “Lalu kenapa sampai sekarang Yuri masih hidup jika memang benar Jessica berniat membunuhnya?”tanyanya.

 

Kris mengerutkan dahinya bingung dengan pemikiran eomma Yuri yang menurutnya aneh itu. Bukan kah seharusnya ia senang Yuri baik-baik saja. “Itu karena aku memergokinya yang akan mencelakai Yuri, jika tidak mungkin Yuri sudah meninggal”jelas Kris.

 

“Dengar Kris-ssi, apa pun yang kau lihat. Kau salah sangka, Jessica tidak berniat sedikit pun untuk mencelakai, Yuri”ucap eomma Yuri santai.

 

“Benar, Kris. Jessica tidak mungkin mencelakai ku”tambah Yuri menyetujui ucapan eommanya.

 

“Kenapa kalian tidak percaya? Apa menurut kalian aku berbohong? Untuk apa aku berbohong kepada kalian?”tanya Kris dengan nada suara yang ia naikan.

 

“Jika memang Jessica beniat membunuh, Yuri. Sudah pasti sekarang Yuri sudah mati”ujar eomma Yuri menekan setiap katanya.

 

“Tapi—“

 

Kris mencoba menyela ucapan eomma Yuri. “Dengar kan aku baik-baik, Kris-ssi. Jika memang Jessica berniat membunuh Yuri seperti yang kau tuduh kan, sudah pasti Yuri tidak akan ada disini. Pertama, ini adalah rumah sakit milik keluarga Jessica yang di hadiahkan kepada Jessica saat ulang tahunnya yang ke-17 karena permintaan Jessica yang ingin mendirikan rumah sakit untuk menolong orang lain. Jika memang Jessica beniat membunuh Yuri, ia bisa menyuruh dokter disini untuk menyuntik mati Yuri atau mengeluarkan Yuri dari rumah sakit ini. Kedua, jika memang Jessica beniat membunuh Yuri ia tidak perlu mengotori tangannya untuk membunuh karena ia bisa saja menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh Yuri tanpa jejak”jelas eomma Yuri panjang lebar. Ia menatap Kris tajam. Ia tidak suka mendengar Kris menjelekan Jessica yang sudah begitu baik kepadanya dan juga keluarnya. Bahkan wakau pun memang benar kejadiannya seperti itu ia tidak akan marah kepada Jessica.

 

“Ketiga, jika memang Jessica jahat ia tidak mungkin menaruh bunga lili kesayangan Yuri di kamarnya”tambah eomma Yuri seraya menunjuk bunga lili putih yang terletak di ujung meja. Kris mengikuti arah jari telunjuk eomma Yuri dan mendapati bungan yang sama seperti yang Jessica bawa saat ia memergokinya berniat jahat kepada Yuri.

 

“Tapi—“

 

“Tidak mungkin aku yang melakukannya karena aku alergi serbuk bunga. Dan jika kau berpikir itu perawat yang melakukannya kau juga salah”ujar sebuah suara yang terdengar bergetar dari arah pintu—dlihatnya Tiffany masuk ke dalam kamar rawat Yuri dengan berlinang air mata lalu langsung menghambur memeluk eomma Yuri. Kini Tiffany tahu alasan kenapa Jessica sakit, itu semua pasti ada hubungannya dengan Kris.

 

“Hiks hiks”isak Tiffany.

 

“Ada apa, Fany-ah?”tanya eomma Yuri khawatir.

 

“Je—Jessica”ucap Tiffany terbaata.

 

“Kenapa dengannya?”tanya Yuri dan eommanya bersamaan. Kini raut wajah khawatir nampak Jelas dikeduanya.

 

“Sakit Jessica semakin parah, padahal kemarin malam saat aku meninggalkannya dia sudah membaik dan lusa sudah bisa pulang”jelas Tiffany dengan diiringi isak tangis.

 

“Fany-ah, antar eommonim ke kamar rawat Jessica”pinta eomma Yuri. Tiffany mengangguk.

 

“Aku ikut”pinta Yuri.

 

 

>>>

 

 

Yuri, Tiffany dan eomma Yuri kini tengah menatap Jessica yang terbaring lemah di bangsalnya dengan wajah yang begitu pucat basi.

 

Tiffany terus saja terisak di pelukan Yuri. Ia sungguh tidak tahan melihat sahabatnya itu terbaring lemah seperti sekarang.

 

“Sudah lah, Tiff, Jessi pasti akan segera sadar”ujar Yuri menenangkan.

 

“Fany-ah, apa nyonya Jung tahu keadaan Jessica sekarang?”tanya eomma Yuri.

 

Tiffany menggeleng. “Jessica tidak mengijinkan aku memberitahu keadaannya kepada eommanya. Ia tidak ingin eommanya khawatir”jelas Tiffany seraya menangis.

 

“Mau apa kau kemari?”tanya seorang namja dengan suara berat yang terdengar jelas marah. Kini perhatian ketiga wanita itu teralihkan dari Jessica. Ia mendapati dua namja jangkung tengah saling berhadapan.

 

“Pergi kau, untuk apa kau kemari? Kau telah menyia-nyiakan orang yang begitu mencintaimu dengan setulus hati dan aku tidak akan membiarkan kau menyia-nyiakannya lagi”usir namja jangkung itu marah kepada Kris. Namja yang telah menyia-nyikan Jessica.

 

Kris terdiam mendengar namja jangkung yang tidak ia ketahui namanya itu membentaknya. Ia memang pantas mendapatkannya bahkan lebih dari ini pun ia pantas mendapatkannya.

 

Namja jangkung itu menarik baju Kris untuk melihat Jessica yang terbaring lemah dengan kondisi yang masih tidak sadarkan diri. “Lihat lah hasil perbuatanmu”ujar dengan nada suara yang tertahan seraya menunjuk Jessica.

 

“Sebenarnya apa dosa Jessica padamu sampai kau sejahat ini padanya?”tanyanya tidak mengerti. Ia menatap Kris tajam—ingin sekali ia membunuh Kris saat ini juga karena sudah membuat Jessica seperti ini.

 

“Dia adalah yeoja yang sangat baik”lanjutnya dengan suara parau.

 

Hening. Tidak ada yang saling bicara. Mereka semua kini hanya diam.

 

“K—Kris”ujar sebuah suara yang terdengar pelan.

 

Semua orang yang berada di sana langsung menoleh ke arah Jessica yang masih memejamkan matanya. “Kris..”ucap Jessica lagi. Perlahan air mata keluar begitu saja dari kedua mata Jessica yang masih terpejam. Bahkan dalam alam bawah sadarnya saja yang Jessica ingat hanya Kris, Kris dan Kris.

 

“Kris, kau salah paham”lanjut Jessica dengan suara serak.

 

Tiffany dan Yuri menutup mulutnnya agar isak tangisnya tidak keluar. Dada mereka terasa begitu sesak melihat sahabatnya yang biasanya begitu ceria kini terisak dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mereka tidak tega melihat Jessica seperti itu.

 

“Kau lihat itu..bahkan dalam keadaan tidak sadar yang ia ingat hanya dirimu. Dirimu yang selalu menyakitinya”ujar namja jangkung itu kini dengan air matanya yang sudah mengalir di wajah tampannya. Ia tidak akan kuat melihat wanita yang begitu ia cintai menderita sampai seperti ini.

 

“Aku tidak akan lagi membiarkannya tersakiti olehmu”lajutnya mantap dengan mata yang masih berlinang.

 

Yuri menghampiri Kris lalu menatap Kris marah.

 

“Plak”

 

Sebuah tamparan Yuri hadiahkan untuk Kris. “Seharusnya kau sadar, aku tidak pernah mencintaimu”ucap Yuri sinis. Ia tahu dari awal kalau Kris menaruh hati padanya, hanya saja ia tidak menyangka jika Kris akan sampai sejauh ini—menyakiti Jessica. Yuri begitu kecewa dengan Kris.

 

Kris terdiam. Ia tahu, ia salah. “Tapi aku mencintaimu”ucap Kris lalu menatap Yuri yang berlinang air mata.

 

Yuri menggeleng kuat. “Lupakan karena tidak akan ada cinta untuk orang sepertimu. Kau hanya belum sadar, siapa yang sebenarnya kau cintai”ucap Yuri lirih lalu kembali memeluk Tiffany yang masih menangisi Jessica.

 

“Sebaiknya kau pergi, kehadiranmu disini hanya akan menambah masalah saja”usir namja jangkung itu.

 

Dengan langkah gontai Kris keluar dari kamar rawat Jessica. “Maafkan aku, Jessica. Kau pasti sangat membenciku sekarang”gumam Kris lirih.

 

“Aku memang pantas mendapatkannya. Aku memang pantas di benci olehmu”lanjutnya. Air matanya mengalir dengan sendirinya. Ia kini benar-benar merasa bersalah kepada Jessica dan ia menyesal telah menyia-nyiakan Jessica. Menyia-nyiakan cinta dan kasih sayang yang tulus yang Jessica berikan padanya.

 

 

 

The End

 

 

 

Epilouge

 

 

 

Ponsel namja jangkung itu bergetar, satu panggilan masuk dari temannya—Kai Kim salah satu teman dekatnya saat Senior High School.

 

“Ada apa?”tanya namja itu langsung.

 

Jessica..ini tentang Jessica”seru Kai membuat namja jangkung itu penasaran.

 

“Ada apa dengannya? Katakan padaku? Cepat!”seru namja jangkung itu tidak sabaran.

 

Tadi aku tidak senagaja menabrak teman Jessica dan lalu ada seorang namja yang marah-marah pada Jessica. Saat ditaman rumah sakit aku tidak sengaja mendengar percakapan seorang namja denngan Jessica dan ternyata namja yang tadi memarahi Jessica adalah kekasih Jessica. Lalu aku mendengar mereka putus”jelas Kai panjang.

 

“Benarkah? Kau tidak bohong kan?”tanyna namja jangkung itu meyakinkan. Raut wajahnya berubah serius.

 

Tentu saja, sekarang Jessica ada dirumah sakit Seoul”jawab Kai.

 

“Baiklah aku akan kesana, sekarang”seru namja jangkung itu cepat.

 

Ne, cepatlah Chanyeol-ah”ucap Kai lalu memutuskan sambungan telponnya.

 

Namja jangkung itu—Park Chanyeol. Namja yang mencintai Jessica namun ia harus merelakan Jessica dengan namja yang Jessica cintai—Kris Wu.

 

 

 

 

16:50 WIB

Sabtu, 07 Desember 2013

***There’s Only One Person Love You by Жin Genie***

Iklan

61 pemikiran pada “There’s Only One Person Love You (Sequel of That Girl) | OneShoot |

  1. Kyaa.. Bagus banget FF nyaa..
    Kasian jessica.. 😥 ini semua salah kris, kris tega banget nyakitin jessica.. 😥 *hahaha.. 😀 keren thor ff nya..

  2. gua rasanya (۳˚Д˚)۳ pengen nonjok Kris, sumpah ngeselin bgt -,-
    Sica disini kasian bgt 😦
    Ini masih ada lanjutannya gak chingu ?

  3. Sedih bget sumpah. . . Kris jahat bget. . . Jessi mending sm chanyeol biar kris nyesel. . . Dan aku salut bget sm tiffany sbg shbat. . . Oh ya th0r ini masih ada kelanjutannya kan, iya kan??. . . S0alnya kris kan blum menyadari perasaannya yg sbnernya ke jessica. . .

  4. author, aku nangis bacanya T_T 😥
    Kris nya jahat baaanngggeeeetttt!!!!
    I HATE KRIS!
    Jessica eonni kasihan banget u,u

    ada sequel nggk eon?? soalnya masih gantung. jessica kan belum tau siapa yg elus2 kepalanya dan siapa yg mncintainya.
    nasib chanyeol gimana ni?? cinta bertepuk sebelah tangan???

    cerita nya kereenn (y)
    lagi2 ff ini bikin aku nangis
    keep writing^^ fighting!

  5. Crtax bgs bgt…gpp deh sica sm chanyeol q jg shiper mrka yeye….tp psti sru klau ad lnjtnx lg…..q awal” itu sk bgt sm krisica tp gra” bca that girl q jd g sng gt sm kriss mlz bnr, tp ttp shipper sih hehe tp skrng utama lusica…
    Lusica jjang….

  6. demi apa ini ff berhasil buat sya menangis berkali kali:””) kisahnya nyentuh banget. sedihnya dapet. i hope you make a sequel (again) pnasaran sma cerita selanjutnya. menurut sya sih ini masih gantung:(( maaf ya thor:( keep updating and writing a fiction:)

  7. feelnya dapet banget.. sampai nangis
    kalau bisa di buat lagi sequelnya thor, tapi tambah bikin kris menyesal semenyesa menyesalnya kkkk
    kalau perlu jessica bunuh diri atau nikah sama Chanyeol

  8. aku nangis ya Allah!
    aduuh sumpah jengkel banget sm kris disini!!!
    udah Jessica sm Chanyeol aja, buat Kris gantian yang menderita!
    next beneran ditunggu~

  9. Lahhh eonni jahat ahhh .
    Ujungnya sica umma masih aja tersakiti seharusnya udah sama chanyeol ajah ngga usah ama kris .
    Plakkkk hadeuh greget kris gtu bgt q bunuh kau kris .

  10. ;-( ceritanya keren banget, feelnya dapet banget smpi aku nangis, aku selalu suka genre ff yg kaya gni yg bkn nyesek d hti apa lgi kalau maincastnya jessica jung. Lanjut thor

  11. yeay… akhir’a seq nya dibwd jg thor. aduh kcian bget sica. q ner2 bnci sm sikap kris dsni. smpet kbw emosi wktu kris nglempar bunga lili itu kesica,kterlalyan bget tu anak. by the way ending’a blum diprjelas thor. sakit’a kris fsni gk stra sm sica. 1 lg sica bkal gmn & sm cpa?? part 2 seq… ditggu thor.

  12. Huaaa!!! Nyesek masa baca ini thor. Huuu jadi nangis nih thor. Kris jahat bgt ih. Tapi daebak deh buat author!!!! Keren banget ni ff thor!!!

  13. nyesek, nyesek banget, Kris nya sudah jatuh, tertimpa tangga pula kacian kacian kacian..
    suka banget sama Chanyeol nya disini, tapi sayang dia gx terlalu diliain huhu T_T
    nice ff thor… 🙂

  14. hikseu T.T Nuesek bgt bacanya sica trlalu banyak berkorban bwt kris. ada lanjutannya lg kah? semoga berakhir jadi chansica couple ^^ ksian chanyeol yg slama ini slalu stia mncintai n mnjaga sica /etjiah bahasa gueh/

  15. pas ditengahtengah feelnya dapet. aku berasa kaya jessica disitu. tp kenapa di ending rada gangerti jadi ya begitulah/?=_=
    need sekuel thor:((

  16. ini sequelnya ngegantung nih….
    sebenarnya sica ama chanyeol atau kriss??
    semoga aja sica pilih chanyeol supaya kriss menyesal dan dapat karma deh…. pengen nonjok krisss…..

  17. omaigat!! chanyeol aku ga nyangka kamu nyempil di epilog -_-
    suerrr.. gua terharu ngebayangin persahabatan jessica tiffany dan yuri. cobak gua pnya sahabat kayak mereka :3
    ehem .. untuk kris. terima aja nasib lu bang. ditolak mentah2 sama yuri. itu karma buat lu #pukpuk
    btw. gua udh lama nungguin sekuelnya. so tin’kyu 😉

  18. Daebaaaak aku suka banget. Author pinter banget menunjukan sisi jahat seseorang, tadinya aku pingin endingnya Krissica eh pas Chanyeol dateng aku pasrah sama Chansica. Tapi ini gantung thor, sequel ne?

  19. hwa…nangis tersedusedu sayanya…nyesek banget jadi jessica?
    eonii kan nyaranin ‘that one person you’ jadi backsoundnya kan? eh aku malah pake ‘miracle in december’…-_- tapi cocok juga kok.
    sequel

  20. omo…ini ff favorit aku,,aku masih inget bngt ff “That Girl” dan sekarang ada sequelnya,,ff yg bikin aku nangis,,dan yg ini tmbh parah..
    please,,bikin sequelnya lagi ya!! mangatse! 😀

  21. aaaaaaaaaaaaaaaaaaa, aku ketipu ! aku kira cowok itu kai ternyata chanyeol !!!!!!!!!! aaaaaaaaaaaaaaaa , chanyeol kerreeeeeeeeeeeeeeeeeennnnnn!!!!!!!!!! ceritanya bagus , jessica jangan dibuat nyesek dong thor aku kan jadi terharuu TT

  22. nangis thor T_T tapi sequelnya ngegantung :’ mau bikin sequelmnya yang bikin kris mohon2 gitu dan meyesal ke jessica dan bikin jessica hampir mati atau koma seru biar kris makin merasa bersalah >:O

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s